SEJARAH MATURUDIYAH
Dimanakah Allah ? Kita beriman bahwa Allah berada di atas singgasananya (istiwa alal arsy). Golongan Asy’ariyyah mengingkari bahwa Allah memiliki tempat, mereka mengatakan bahwa itu mustahil, mereka beriman bahwa kita akan melihat Allah.
Karena sebab inilah golongan Mu’tazillah menentang mereka; jika mereka mengatakan bahwa Allah tidak memilki tempat dan mereka mengatakan bahwa kamu akan melihat-Nya, lalu bagaimana kamu dapat melihat-Nya tanpa menemui-Nya di tempat-Nya? Golongan Asy’ariyyah berkata bahwa Allah swt tidak memilki tempat, kita akan melihat Allah di atas, di bawah, di samping kiri, di kanan dan disetiap tempat. Golongan Mu’tazillah berpendapat bahwa orang yang mengatakan bahwa Allah tidak memiliki tempat akan tetapi kamu akan melihat-Nya adalah sebuah pernyataan yang patut untuk ditertawakan.
Golongan Asy’ ariyyah percaya bahwa Hadits Shohih yang Ahad tidak bisa diambil dalam masalah akidah akan tetapi mereka membangun semua madzhab mereka dan ushulud dien (pokok-pokok agama) mereka, Imaan, Qur’an dan ‘uluw (mereka) didasarkan atas 2 bait sajak.
Akhtal, seorang penyair Kristen berkata, “Kata selalu ada di dalam hati, akan tetapi lisan digunakan sebagai bukti terhadap apa yang ada dalam hati mereka.” Serupa apa yang mereka katakan bahwa Kalamullah adalah bukan realita kata-kata yang sesungguhnya dari-Nya dan perkataan iman hanya merupakan bukti dari apa yang ada dalam hati.
Dia juga berkata dalam ayat yang lain, “Dia mengontrol (istiwa) Iraq tanpa pedang dan pertumpahan darah.” Mereka menggunakan ini untuk merubah arti singgasana-Nya kepada arti “kontrol”. Semua kekacauan ini berasal dari para rasionalis dari golongan Al-Maturidiyah.
Abu Mansur Al-Maturidi